ABILITY GROUPING

TINJAUAN PSIKOOGIS TERHADAP PELAKANAAN ABILITY GROUPING DI SEKOLAH DASAR

Oleh: Purwanto

Latar Belakang

Demi mengejar target nilai perolehan UAS/UASBN, tidak sedikit sekolah yang menerapkan metode ‘one-shot and quick-fix’ proses sekali jadi dan bagus hasilnya. Untuk di sekolah dasar, metode ini diterapkan di kelas enam dengan asumsi bahwa siswa kelas enam adalah siswa yang diharapkan dapat mengangkat prestasi dan prestise sekolah. Prestasi berarti tercapainya nilai-nilai akademik mata pelajaran-mata pelajaran khususnya yang di-UASBN-kan, sedangkan prestise dalam kaitannya dengan mengangkat nama baik sekolah dan nilai jual sekolah.
Kebijakan sekolah dengan metode seperti ini tidak sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional , khususnya Bab 1 Pasal 1 Ayat 1 yang menerangkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendaliaan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara..
Di samping itu, metode ‘one-shot and quick-fix’ tidak lagi seusai dengan karakter pembeajaran yang diharapkan mampu mengubah perilaku dan pendewasaan siswa melainkan sudah mengarah pada ‘penjejalan materi’ yang bagi siswa menjadi dogma yang harus diikuti. Siswa hanya ‘di-drill’ dengan pengetahuan-pengetahuan yang berkaitan langsung dengan materi-materi ujian. Interaksi antara guru dengan siswa terbatas pada pemecahan soal-soal ujian. Siswa dianggap sebagai ‘robot’ yang dapat diprogram sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh guru.
Proses belajar-mengajar berlangsung sangat kaku dan kurang manusiawi. Siswa dianggap sebagi ‘botol’ yang harus terus diisi dengan pengetahuan. Siswa dianggap berhasil jika materi-materi ujian itu cepat dikuasai. Sebaliknya, siswa dianggap gagal jika belum menguasai materi yang diberikan guru.
Salah satu bentuk metode ‘one-shot and quick-fix’ adalah pemisahan siswa berdasarkan kemampuan akademisnya yang lebih dikenal dengan istilah ‘ability grouping’.

Pengertian Ability Grouping
Ability grouping (selanjutnya disingkat AG) adalah adalah pengelompokkan siswa dalam kelas yang sama berdasarkan kemampuan akademiknya. Siswa yang tingkat penguasaan akademiknya baik, dijadikan satu dan dipisahkan dengan kelompok siswa yang tingkat penguasaan akademiknya kurang baik.
Asumsi penerapan AG adalah bahwa siswa yang pandai memerlukan layanan pembelajaran yang berbeda dengan siswa yang kurang pandai. Anggapan ini didasarkan bahwa siswa yang pandai cenderung lebih cepat menerima pelajaran dan lebih mudah menerima pelajaran dibandingkan dengan siswa yang kurang pandai. Jika kedua kelompok yang berbeda tingkat penguasaannya ini dijadikan satu, maka akan terjadi ketimpangan dalam penerimaan pelajaran.
Bentuk ketimpangan itu adalah siswa yang cepat menguasai pelajaran harus menunggu pada siswa yang kurang cepat menguasai pelajaran sampai siswa tersebut menguasai pelajaran. Demikian juga gurunya, guru tidak bisa menerapkan satu cara dalam satu kelas yang sama. Akibatnya, baik siswa maupun guru sama-sama mengalami kesulitan.

Program AG dan peningkatan prestasi akademik siswa

Secara obyektif program AG akan memberikan kondisi pada suasana belajar yang ideal dan kondusif untuk mencapai tujuan pragmatis dalam belajar. Hal ini tampak dari hasil evaluasi belajar siswa yang memiliki kemampuan homogen / sama akan dengan mudah menerima masukan / materi pelajaran. Potensi akademik yang homogen akan memberikan respon hasil belajar yang homogen pula. Guru dengan mudah menyampaikan materi, selanjutnya siswa akan menanggapi dalam proses belajar dengan lebih mudah. Pada akhirnya prestasi akademik siswa akan mudah termonitor dan mudah pula melakukan perlakukan-perlakuan khusus dalam rangka perbaikan atau pengayaan.
Baik siswa yang terkelompok sebagai siswa berpotensial tinggi (pintar) ataupun siswa yang terkelompok sebagai siswa berpotensial rendah (kurang pandai), akan dengan mudah termonitor oleh guru. Perlakuan guru dalam proses pembelajaran yang homogen di dua kelompok tersebut akan meningkatkan prestasi siswa.
Ada anggapan bahwa dalam memperoleh ilmu pengetahuan melalui pendidikan kita tidak lagi mempersoalkan posisi (institusi) pendidikan. Mungkin karena ilmu pengetahuan itu sendiri dianggap netral, dengan sendirinya proses belajar-mengajar pun kemudian dianggap netral dan selalu mengandung kebajikan.
Menuru pengamatan penulis (melalui wawancara, diskusi sesama guru, perolehan nilai) program AG memang berhasil menjadikan anak pandai semakin cepat menguasai pelajaran dan siswa yang kurang pandai pun dapat diangkat prestasinya, minimal jika dibandingkan dengan kelas heterogen. Guru pun menemukan metode yang tepat sesuai dengan bidang pelajaran dan jenis kelasnya.

Dampak Penerapan AG
1. Terjadi dikotomi ‘anak pandai-anak bodoh’
Anak-anak cenderung bergaul sesuai dengan kelasnya. Mereka agak menjaga jarak dengan sesama teman yang berbeda kelas. Anak pandai akan lebih banyak bergaul dengan anak pandai dan anak kurang pandai akan bergaul dengan anak yang kurang pandai. Guru pun seolah memberikan label bahwa si A anak pandai karena nilai-nilainya bagus sedangkan si B anak bodoh karena niai-nilainya jelek.
2. Kesenjangan sosial meningkat
Interaksi sosial yang kurang baik menyebabkan banyak masalah kecil yang idak jarang memunculkan masalah serius. Sikap sinis dan mudah curiga dari masing-masing grup menimbulkan letupan-letupan yang menjurus pada ketidakstabilan suasana pembelajran di sekolah. Tidak jaran terjadi pertengkaran bahkan perkelahian antara anak yang pandai dan kurang pandai yang bermua dari saling ejek dan saling meninyindir.
3. Tidak memupuk rasa ‘convidient’
Siswa kurang pandai merasa tersisih dan kurang percaya diri. Cap bahwa ia ‘bodoh’ seolah sudah melekat pada dirinya yang menjadikan ia tampak canggung dan merasa serba salah. Hal ini kadang diperparah dengan sikap guru yang kadang melontarkan perkatan-perkataan tidak pada tempatnya, seperti:
a. Coba seperti si A itu, ia selalu dapat nilai di atas 9.
b. Contohlah si A ia selalu rajin belajar
c. Jangan seperti si B sudah bodoh, malas lagi

Tinjauan Psiklogis terhadap AG
Pelaksanaan Ability Grouping telah menempatkan siswa pada suatu anggapan bahwa anak pandai harus bergabung dengan anak pandai dan anak kurang pandai harus bergabung dengan anak kurang pandai. Padahal kecerdasan akademik hanya merupakan sebagian kecl faktor penentu keberhasilan hidup seeoran. Banyak orang sukses yang ketika sekolah prestasi akademiknya biasa-biasa saja atau bahkan kurang. Sebaliknya, banyak juga orang yang gagal dalam karier padahal sewaktu sekoah ia termasuk siswa ‘superior’ dalam prestasi akademik.
Teori baru telah menunjukkan bahwa kecerdasan manusia berdimensi majemuk. Teori multiple intelligences Howard Gardner yang telah teruji secara empiris di dalam kelas, yang juga didukung temuan-temuan di bidang neuro science tentang fungsi otak kanan dan otak kiri, adalah teori baru yang layak dijadikan landasan teori untuk membuat kategori kecerdasan siswa.
Gardner telah mengidentifikasi kecenderungan kecerdasan manusia menjadi sembilan jenis, yaitu linguistik, logiko-matematikal, musikal, spasial-visual, kinestetik-jasmani, intrapersonal, interpersonal, naturalis, dan spiritual atau eksistensial. Orang yang kurang cerdas di bidang logiko-matematikal mungkin cerdas luar biasa di bidang musik, mungkin kinestetik, mungkin spasial-visual. Sementara identifikasi kecerdasan anak yang didasarkan pada skor IQ, notabene hanya mengukur kecerdasan logika-matematikal dan sedikit linguistik. Oleh karena itu, identifikasian kecerdasan luar biasa yang hanya ditentukan berdasarkan skor IQ hanya mengukur dua dimensi saja.
Menurut ahli psikologi, Jean Piaget (1896-1980), sebagaimana tubuh kita mempunyai struktur tertentu agar dapat berfungsi, pikiran kita juga mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata. Skema adalah struktur mental atau kognitif yang dengannya seorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya.
Apabila manusia mengintegrasikan gambaran baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya, maka ia melakukan proses asimilasi. Proses ini terjadi bila ada kesamaan dengan konsep yang sudah ada atau melengkapi konsep itu. Dikala manusia tidak menemukan kecocokan dengan konsep yang sudah ada maka manusia melakukan akomodasi. Dalam proses ini manusia membentuk skema baru. Seorang pelajar mempunyai skema dalam pikirannya bahwa air mendidih pada suhu 100″aC. Tetapi ketika ia memanaskan beberapa air ternyata ada yang mendidih pada suhu 90″aC, 110″aC dan 80″aC. Ia menemukan bahwa air itu tidak murni atau tercampur dengan zat lain, karena air mendidih pada suhu yang berbeda. Akhirnya, pelajar itu mengembangkan skemanya yang baru tentang air, bahwasannya hanya air yang murni bisa mendidih pada suhu 100″aC.
Benyamin S. Bloom (1956) melengkapi pendapat Jean Piaget dengan membuat stratifikasi intelektual yaitu menerapkan gaya pembelajaran dengan memperhatikan aspek pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Memang diakui bahwa identifikasi strata intlektual ini jarang dimengerti dan diterapkan guru. Barangkali karena ketidaktahuan menggunakan prinsip-prinsip logika. Ukuran kemengertian siswa sebatas mempunyai jawaban persis sama dengan apa yang ada dalam buku, bukannya peta konsep (concept map) yang sama seperti kepunyaan guru. Belajar yang sesungguhnya adalah proses mentransfer konsep, seperti mempunyai kemampuan mengetahui apa yang dipelajari, membahasakannya dengan bahasa sendiri, menerapkannya dalam konteks yang praktis, mempunyai keahlian untuk membandingkan dan menganalisa serta bisa memberikan kesimpulan logis secara deduktif dan induktif dan seterusnya bisa menguraikan secara dialektis kesimpulan yang sudah disusunnya itu.
Ability grouping sudah jauh meniggalkan pandangan bahwa anak mempunyai kecerdasan yang berbeda-beda sehingga tidak bisa disamakan antara anak yang satu dengan anak yang lain. Tiap anak mempunyai karakter yang perlu dikembangkan di sekolah. Guru harus menjadi jembatan antara kondisi realitas yang ada dengan masa depan yang hendak dicapai anak.

Kebutuhan yang diperlukan siswa di sekolah

1. Kebutuhan Fisiologis
2. Kebutuhan Rasa Aman
3. Kebutuhan Harga Diri
4. Penghargaan dari pihak lain
5. Pengetahuan dan Pemahaman
6. Kebutuhan Estetik
7. Kebutuhan Akatualisasi Diri

Kesimpulan
1. Program AG dari sisi proses belajar mengajar adalah baik dan kondusif dalam rangka mencapai tujuan belajar. Siswa terpacu dan tertantang untuk lebih maju lagi. Target pencapaian nilai akan lebih mudah tercapai. Siswa menemukan pola pebelajara yang sesai dengan tingkat kemampuannya. Guru dapat menerpakan metode yang tepat untuk kelas tepat.
2. Dalam kerangka tujuan pendidikan ideal, yaitu pengembangan aspek pengetahuan, sikap dan perilaku motorik (sosial) harus diperhatikan. Kondisi siswa yang homogen khususnya kelompok berkemampuan tinggi , apabila memang dibentuk/ diprogramkan maka perlu adanya bimbingan khusus bagi siswa yang mengalami persoalan dengan masalah sosialnya.
3. Program AG dapat memicu kerawanan sosial di sekolah jika tidak diantisipasi dengan baik, yang melibatkan seuruh koponen sekolah.
4. Penerapan program AG harus bisa mengubah paradigma siswa, bahwa siswa itu mempunyai kecerdasan majemuk, tidak hanya terbatas pada kecerdasan bidang akademik saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: