Pembelajaran bahasa Indonesia

MENGAJARKAN BAHASANYA, BUKAN TENTANG BAHASANYA

 

Mengacu pada UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Bahasa memegang peranan penting dalam mengembangkan potensi manusia dalam berbagai bidang kehidupan sebab  bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sarana yang tepat untuk mengungkapkan berbagai macam gagasan. Melalui bahasa, manusia dapat mengekspresikan pikiran dan  perasaan  kepada orang lain. Disamping itu, bahasa juga merupakan media untuk menyampaikan berbagai informasi serta penyebarluasan ilmu pengetahuan. Peranan bahasa yang sedemikian penting menuntut adanya upaya-upaya untuk lebih mengoptimalkan pembelajaran bahasa di sekolah, khususnya di sekolah dasar.

Karakteristik Pembelajaran Bahasa Indonesia

Tidak dapat disangkal lagi bahwa bahasa mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Melalui bahasa kita bisa berkomunikasi dengan orang lain. Melalui bahasa kita juga dapat mengekspresikan ide-ide kita. Yang lebih penting, bahasa menjadi jembatan antara  komunikator dengan komunikan.

Pembelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki berbagai kemampuan sebagai berikut: 1). Berkomuikasi secara efektif dan efisien sesuai etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis. 2). Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara. 3). Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan. 4). Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial. 5). Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. 6). Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia (Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum  2004).

Ada 4 aspek keterampilan berbahasa yang akan dikembangkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Keempat aspek itu adalah aspek: (1) mendengarkan (listening skill), (2) berbicara (speaking skill), (3) membaca (reading skill) dan (4) menulis (writing skill). Keempat keterampilan tesebut saling berhubungan. Dalam penyajian pembelajaran, keempat keterampilan tersebut erat kaitannya dan saling menunjang. Keterampilan menyimak erat kaitannya dengan keterampilan berbicara sedangkan keterampilan membaca erat kaitannya dengan keterampilan menulis. Bahkan keempat keterampilan tersebut dapat disajikan secara bersamaan dengan penekanan pada salah satu bidang keterampilan.

Hubungan keempat keterampilan berbahasa tersebut dapat dijabarkan dalam tabel berikut:

MENYIMAKLangsungApresiatifReseptif

Fungsional

Komunikasi tatap muka BERBICARALangsungProduktifEkspresif

KETERAMPILAN BERBAHASA

MENULISTak langsungProduktifEkspresif Komunikasi tidak tatap muka MEMBACATak langsungApresiatifFungsional

(Tarigan. 2002:2)

Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang teratur: mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca dan menulis. Menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah. Keempat keterampilan tesebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur-tunggal (Tarigan, 1982:1)

Membelajarkan Siswa, Bukan Apa yang Dipelajari Siswa

Pentingnya interaksi antara guru dengan murid dinyatakan oleh Daniel Goleman (1996:164)  bahwa sinkroni antara guru dan murid-muridnya menunjukkan seberapa jauh hubungan yang mereka rasakan; studi-studi di kelas membuktikan bahwa semakin erat koordinasi gerak antara guru dan murid, semakin besar perasaan bersahabat, bahagia, antusias, minat, dan adanya keterbukaan ketika melakukan interaksi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pembelajaran bahasa Indonesia masih lebih banyak menekankan pada penguasaan aspek teoretis daripada terapan. Guru bahasa cenderung memisahkan pelajaran bahasa Indonesia dalam 2 dikotomi yaitu kebahasaan dan kesusastraan. Pada aspek kebahasaan masih banyak disajikan pembelajaran yang berkaitan dengan teori kebahasaaan, demikian juga pada bidang sastra.  Padahal, pembelajaran bahasa tidak berarti ingin menjadikan anak sebagai ahli bahasa ataupun sastrawan, tetapi agar siswa terampil berbahasa.

Guru bahasa Indonesia adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kualitas kompetensi bahasa Indonesia anak. Guru bahasa Indonesia memang dipandang masih kurang tampil prima dalam membelajarkan bahasa Indonesia. Sarwiji (1996) dalam penelitiannya tentang kesiapan guru bahasa Indonesia, menemukan bahwa kemampuan mereka (guru bahasa Indonesia)  masih kurang. Kekurangan itu antara lain, pada pemahaman tujuan pengajaran, kemampuan mengembangkan program pengajaran, dan penyusunan serta penyelenggaraan tes hasil belajar.

Beberapa faktor penghambat dari dalam (faktor guru) yang sangat mempengaruhi kualitas pembelajaran bahasa Indonesia adalah: 1) masih adanya guru bahasa Indonesia yang bukan berlatar belakang jurusan bahasa Indonesia, 2) minat membaca dan menulis masih rendah, 3) tidak tersedianya sumber bacaan yang berkaitan langsung dengan pembelajaran bahasa Indonesia semisal karya sastra bermutu, ensiklopedi, kamus 4) kurangnya interaksi antara guru bahasa Indonesia dengan sastrawan atau pun bahasawan, 5) kurangnya media untuk mengembangkan pembelajaran bahasa Indonesia, 6) terbatasnya koleksi buku perpustakaan di sekolah.

Untuk meningkatkan kualitas pemakaian bahasa Indonesia, baik di sekolah maupun dalam suasana formal lainnya, perlu perhatian khusunya dalam hal pembelajaran di sekolah. Upaya itu harus dilakukan sejak dini, yakni mulai dari sekolah dasar yang merupakan dasar pembentukan kompetensi keterampilan berbahasa Indonesia untuk jenjang yang lebih tinggi. Pembelajaran bahasa Indonesia perlu revitalisasi sehingga pembelajaran bahasa Indonesia itu betul-betul berkorelasi dengan  peningkatan keterampilan berbahasa siswa dan bukan membebani siswa dengan beragam teori kebahasaan dan kesusasteraan yang menjemukan.

Pembelajaran bahasa Indonesia harus dikembalikan kepada tujuannya yaitu meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Penguasaan bahasa Indonesia yang baik dapat diketahui dari standar kompetensi yang meliputi membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan.

Penekanan pembelajaran bahasa Indonesia di kelas 1 dan 2, hendaknya mengacu pada konsep awal pembelajaran di kelas bawah yaitu memperkuat membaca dan menulis (calis). Penekanan ini bukan berarti mengabaikan sama sekali kompetensi mendengarkan dan berbicara, tetapi memberi porsi lebih pada keterampilan membaca dan menulis. Bentuk-bentuk pembelajaran yang dapat diterapkan di tingkat ini diantaranya: 1) membaca tanpa mengeja, 2) membaca dongeng bergambar, 3). merangkai huruf menjadi kata, 4) menyusun kalimat sederhana, 5) menulis ulang tulisan guru, 6) melengkapi cerita singkat, 7) membuat karangan bebas, 8) membuat karangan tentang pengalaman yang paling berkesan..

Mary Leonhardt (2001:26), penulis buku 99 Cara Menjadikan Anak Anda Bergairah Menulis,  mengatakan bahwa anak-anak yang gemar menulis dan membaca menjadi murid yang mudah unggul dalam hampir semua mata pelajaran. Ini berarti bahwa kegemaran menulis dan membaca mempunyai korelasi dengan prestasi anak.

Bentuk-bentuk Pembelajaran yang dapat dilakukan di kelas 3 dan 4 diantaranya: 1) membaca nyaring (dalam lafal yang tepat), 2) membaca dalam intensif (dimaksudkan untuk memahami isi bacaan), 3) melaporkan isi bacaan singkat, 4) menulis tegak bersambung, 5) menulis pesan, 6)menulis surat untuk orang tua, 7) mendengarkan cerita dan memberikan tanggapan.

Untuk kelas 5, pembelajaran bahasa Indonesia harus memperkuat apa yang telah diajarkan di kelas 4 ditambah dengan beberapa kompetensi yang memang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya: 1) bertelepon, 2) menulis surat, 3) bermain peran, 4) membuat ulasan cerita, 5) membuat puisi dan membaca dengan penuh ekspresi, 6) membuat karangan tentang pengalaman pribadi, 7) mewawancarai tokoh-tokoh, 8) mempresentasikan laporan kegiatan.

Pembelajaran bahasa Indonesia di kelas 6, mempunyai karakteristik tersendiri. Hal ini disebabkan siswa kelas 6 tidak hanya dituntut menguasai kompetensi tetapi juga harus dipersiapkan untuk mengikuti UASBN. Pembelajaran di kelas 6 disamping merupakan penguatan dari pembelajaran sebelumnya, juga diharapkan sudah sampai pada tataran aplikasi, misal: 1) bertelepon, 2) menulis pesan, 3) berdebat, 4) membuat karya sastra  5) mempresentasikan laporan kegiatan, 6) mewawancarai tokoh, 7) memberikan ulasan bacaan, 8) memberi tanggapan terhadap karya sastra (puisi, dongeng, cerpen).

Memberi Pujian

Guru bahasa Indonesia diharapkan menjadi motivator bagi siswa dalam menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai motivator, peran guru sangat besar dalam menanamkan kecintaan anak terhadap bahasa Indonesia.

Pujian merupakan salah satu bentuk motivasi bagi anak. Ketika anak menulis dengan rapi, tidak ada salahnya jika guru memuji dengan mengatakan ” Wah, rapi sekali tulisanmu, Bapak yakin jika tulisan seperti ini tetap dipertahankan kamu akan menjadi juara dalam lomba menulis rapi”. Dengan diberi pujian seperti itu anak akan merasa bangga dengan tulisannya, selanjutnya dia akan akan berusaha untuk selalu menulis rapi agar mendapat pujian dari guru.

Ketika siswa membuat karangan dengan runtut dan menarik, sebaiknya guru memberi penguatan dengan mengatakan, ”Karanganmu bagus sekali Dinda, Ibu kagum dengan ceritamu,” atau ”Wah, sekalinya Dinda bakat mengarang, ya. Teruslah berlatih, Ibu yakin Dinda akan menjadi pengarang yang hebat.”

Guru bahasa Indonesia sebaiknya tidak pelit dalam memberikan pujian kepada anak demi tercapainya tujuan pembelajaran yaitu terwujudnya kompetensi keterampilan berbahasa.

Daftar Pustaka

Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan

Pertama.2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta:

Depdiknas.

Goleman, Daniel. 1996.  Emotional Intelligance. Jakarta: Gramedia.

Leonhardt, Mary .2001.  Cara Menjadikan Anak Anda Bergairah Menulis.

Bandung:   Penerbit Kaifa

Tarigan, Henry Guntur. 1982. Menulis Sebagai Suatu Keterampian Berbahasa.

Bandung: Penerbit Angkasa.

Tarigan, Henry Guntur . 1984.  Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Penerbit

Angkasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: