Mengajarkan Pantun dengan Teknik Bernyanyi

Pembelajaran Pantun dengan Teknik Bernyanyi
Hakikat Pantun
Pembelajaran pantun merupakan bagian dari pembelajaran bahasa Indonesia. Pembelajaran bahasa Indonesia menekankan pada ketercapaian keterampilan berbahasa.
Pantun merupakan bagian dari materi bahasa Indonesia. Dalam Wikipedia dijelaskan bahwa pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan dan dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan. Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), bersajak akhir dengan pola a-b-a-b (tidak boleh a-a-a-a, a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.
Hakikat Bernyanyi
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa kata bernynayi berasal dari kata dasar nyanyi. Kata bernanyi berarti mengeluarkan suara atau nada. Bernyanyi merupakan upaya untuk menyenangkan hati. Materi pantun yang dibawakan dengan nyanyian akan membuat peserta didik menjadi senang yang akhirnya mereka akan menyenangi materi yanga dibawakan oleh guru. Contoh: Lagu anak ayam turun sepuluh.
Anak-anak diajak menyanyi bersama dengan lagu tersebut. Kegiatan menyanyi bisa dibuat variasi. Misal, dua baris pertama laki-laki, dua baris berikutnya perempuan. Dua baris pertama satu anak, dua baris berikutnya semua anak, dan sebagainya.
Agar lebih menarik, pantun yang dibawakan sambil bernyanyi dapat diiringi dengan musik. Dalam Wikipedia dijelaskan bawa Musik adalah bunyi yang diterima oleh individu dan berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang. Definisi sejati tentang musik juga bermacam-macam:
• Bunyi/kesan terhadap sesuatu yang ditangkap oleh indera pendengar
• Suatu karya seni dengan segenap unsur pokok dan pendukungnya.
• Segala bunyi yang dihasilkan secara sengaja oleh seseorang atau kumpulan dan disajikan sebagai musik
Musik menurut Aristoteles mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme. Iringan musik, meskipun sederhana, dapat membangkitkan semangat siswa.
Membuat pantun memerlukan suatu kondisi yang tenang dan inspiratif. Jika kegiatan itu hanya diakukan dalam suatu ruang dengan pandangan yang terbatas, maka siswa akan merasa kurang nyaman. Kalau keadaan ini berlangsung dalam kurun waktu yang relatif lama atau dalam tingkat keseringan yang tinggi, maka tidak menutup kemungkinan siswa akan merasa jenuh yang berakibat tidak berkembangnya keingingan siswa untuk lebih kreatif membuat puisi.
Dengan melihat berbagai objek, siswa lebih mudah menemukan inspirasi dalam membuat pantun. Hal ini dapat menyebabkan keyakinan siswa yang tiggi bahwa membuat pantun itu tidaklah sulit. Jika kesadaran ii telah tertanam pada sisiwa, maka peran guru tinggal memotivasi kepada siswa ntuk menciptakan pantun dalam berbagai peristiwa.
Hernowo (2004:61) menyatakan bahwa dewasa ini ada kecenderungan untuk kembali ke pemikiran bahwa anak didik akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah.
Motivasi guru begitu penting bagi siswa. Dengan motivasi, kebiasaan positif dapat ditingkatkan. Siswa dan guru lebih bersemangat. Hubungan antara pengajar dan pembelajar pun akan lebih harmonis. Daniel Goleman (1996:164) menyatakan bahwa sinkroni antara guru dan murid-muridnya menunjukkan seberapa jauh hubungan yang mereka rasakan; studi-studi di kelas membuktikan bahwa semakin erat koordinasi gerak antara guru dan murid, semakin besar perasaan bersahabat, bahagia, antusias, minat, dan adanya keterbukaan ketika melakukan interaksi.
Hasil yang Diharapkan
1. Siswa mendapat inspirasi dari lingkungan sekitar untuk membuat pantun
2. Siswa dapat mengembangkan imajinasi
3. Siswa memperoleh kebebasan berkarya
4. Siswa memperoleh banyak pilihan objek yang akan dituangkan ke dalam pantunnya
5. Pembelajaran berlangsung menyenangkan
6. Meningkatkan keterampilan menulis pantun
7. Penulisan pantun menggugah rasa bermain dengan kata-kata dan struktur kalimat. Kegiatan ini membantu mengembangkan kesadaran akan pengibaratan dan metafora, serta irama, sembari memperlihatkan kekuatan dalam menulis singkat dan ringkas (Mary Leonhardt 2001:57).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: