Cerpen

Terima Kasih, Bu Guru

     Aku tidak habis pikir dengan cara pandang orang tuaku, terutama papa. Beliau menentangku habis-habisan keterlibatanku sebagai tenaga pengajar di PAUD Kartika. Padahal anak-anak di sana perlu perhatian. Perlu uluran tangan dan kasih sayang.

Orang tuanya tidak ada waktu untuk memperhatikan anak-anaknya. Pun mereka sudah kelelahan mencari nafkah seharian.

Sebagian besar warga bantaran Kali Code pekerja kasar. Yang laki-laki rata-rata jadi penarik becak. Ada juga yang jadi kuli bangunan, buruh angkut di Pasar Beringharjo, dan tidak sedikit jadi pengamen. Hal ini memaksa ibu-ibunya untuk mencari tambahan penghasilan dengan menjadi buruh cuci, penjual jamu gendong,  bahkan ada juga yang menjadi penarik becak. Bahkan,  kudengar ibunya Joko itu malah menjadi satpam. Ck..ck…ckkk! Hebat! Ini namanya emansipasi wanita. Meski emansipasi yang kebablasan.

Tidak ada warga bantaran Kali Code ini yang kehidupannya berkecukupan. Apalagi sejahtera. Semuanya prasejahtera. Semuanya serba kekurangan.  Anak-anak dengan perut buncit, wajah kuyu dan hidung yang ingusan mendominasi hampir semua anak di wilayah ini. Padahal mereka adalah generasi yang kelak diharapkan mampu bersaing. Tetapi,  bagaimana mau bersaing sedang untuk urusan makan saja  susah.

Biar urusan ekonomi seret, tetapi urusan pendidikan boleh diacungi jempol. Di sini banyak pendidikan luar sekolah. Ada PAUD. PAUD itu singkatan dari Pendidikan Anak Usia Dini. Program pendidikan ini untuk anak-anak prasekolah.  Ada juga program  Paket A setara SD di sekolah formal. Ada Paket B untuk anak-anak usia sekolah setara SMP. Bahkan ada Paket C untuk anak yang tidak bisa sekolah formal di SMA. Pengajarnya pun banyak. Rata-rata anak mahasiswa. Yang masih SMA hanya aku.

***

     ”Papa tidak mau sekolahmu terbengkalai, Nduk. Gagal. Papa ingin kamu terus sekolah dan berprestasi. Kuliah. Jadi dokter.  Itu dambaan Papa. Papa tidak ingin kamu keasyikan dengan anak-anak tidak jelas itu.”

”Tapi Pa, Sari bisa membagi waktu, Pa.” potongku.

”Stop! Jangan bantah papa!” Papaku marah. Aku terpaksa mengalah. Papaku orangnya keras. Setiap perkataannya harus dituruti. Tidak ada yang boleh membantah.

Sudah tiga hari ini aku tidak ke PAUD Kartika. Tentu Denok, teman mengajarku di sana, kerepotan mengajar meski ada Mbak Eka dan Mbak Tini yang entah beberapa hari sekali datang membantu.

Mbak Eka memang tidak begitu serius mengajar di PAUD. Ia kadang mengeluh tentang lingkungannya  yang kotor dan jorok. Makanya anak-anak tidak begitu dekat dengannya. Mbak Tini juga begitu. Ia setali tiga uang dengan Mbak Eka. Kedua mahasiswi itu ikut mengajar dengan tendensi tertentu;  supaya dicap sosial.

Kalau  Denok memang militan. Gadis ayu anak pak lurah yang baru lulus D3 itu betul-betul membuatku heran sekaligus simpatik. Ia terjun total di PAUD. Meski tidak dibayar. Meski ia harus naik angkot dari rumahnya, ia tetap saja datang setiap hari. Anak-anak pun begitu lengket dengannya.

Hp-ku berbunyi.

”Ke mana saja sih kok nggak pernah kelihatan. Kamu tega ya. E, kau tahu nggak, kemarin Dini sakit.”

”Sakit apa?”  balasku.

”Panas! Panasnya tinggi. Ia selalu menyebut-nyebut namamu.”

Deg! Dini , bocah berusia empat tahun itu sakit. Sakit panas? Panasnya tinggi? Jangan-jangan demam berdarah. Bantaran Kali Code kan kumuh. Banyak nyamuknya. Apalagi pada bulan ini saja sudah tiga anak kena DB. Kasihan dia. Pasti tidak ada yang mengurus. Dini itu begitu dekat denganku. Ia selalu manja jika aku datang. Mintanya digendong terus. Lalu biasanya ia mengadu tentang makannya dan orang tuanya. Ia biasanya cerita bahwa ibunya pelit soal makanan. Ia dilarang tambah. Lain waktu dia akan cerita kalau ayahnya bertengkar dengan ibunya. Bahkan yang lebih ngeri, ia pernah cerita bahwa ibunya dicekik ayahnya. Ah, anak malang.

Dini memanggilku Bu. Bu Sari.  Aku terkadang terharu mendengar panggilannya itu. Sesekali geli juga. Aku baru kelas 3 SMA. Pun masih manja sama orang tuaku. Tetapi aku sudah dianggap sebagai seorang ibu. Hi hi hi, lucu!

Aku segera beres-beres kamar. Kusahut tasku.

”Ke mana Nduk?”

”Eh, ke rumah teman, Ma. Ada tugas kelompok yang mesti kuselesaikan. Itu lho PR Matematika. Susahnya minta ampun. Mana gurunya galak lagi!” kataku membohongi mama.“ Ma, mungkin Sari malam baru pulang.”

”Jangan lupa telepon papamu biar dijemput.”

”Nggak usah, Ma. Aku nanti naik angkot saja!”

”Nggak! Telepon dulu. Nanti papamu marah. Kalau papamu marah, mama ini kena omel terus. Lagi pula nanti malam mama sudah masak yang enak. Kita makan malam sama-sama, ya.” Katanya sambil memegang tanganku.

”Iya, ya!”

Ibuku memang over protective. Paling judes kalau aku mau keluar.  Maklum aku anak kebanggan papa. Anak satu-satunya lagi. Jadi mau kepada siapa lagi beliau mencurahkan perhatian kalau tidak kepadaku.

Sejurus kemudian aku sudah sampai di rumah Dini. Rumah ukuran 3X3 berdinding gedek itu tampak sepi. Sengaja aku tidak mampir ke PAUD dulu. Biarlah Denok yang mengurusi anak-anak

”Kulonuwun.”

Sepi. Tidak ada sahutan. Kulongokkan kepalaku ke dalam.

”Kulonuwun.”  Masih nggak ada sahutan. Kuberanikan diriku masuk ke rumah. Nggak ada siapa-siapa. Pelan-pelan aku menyibak kain usang yang berfungsi sebagai gorden itu.

Kulihat Dini tidur di tikar sendirian. Pelan-pelan kudekati dia. Punggung tanganku kutempelkan di keningnya. Panas! Aku panik. Jangan-jangan DB!

Mendadak Dini bangun. Ia lalu loncat dan memelukkku.

”Ibuuuu…! Bu Sari ke mana saja, sih? Dini kangen. Dini sakit Bu. Sakit panas.”

Tenggorokanku tercekat. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Kubelai-belai rambutnya. Tak terasa bulir-bulir air mataku membasahi pipiku.

”Bu Sari menangis ya, ibu  sedih, ya. Bu, Dini sudah makan Bodrexin lho. Enak. Manis. ”

Dini terus saja bercerita. Anak ini memang banyak bicara. Omongannya lucu. Aku diam saja.

”E, ada tamu. Sudah lama, Bu?”

”Belum, Bu.”

”Sudah berapa hari Dini sakit, Bu?”

”Sudah tiga hari. Kadang panas, kalau diberi Bodrexin panasnya turun. Makannya itu lho, Bu, susah. Katanya tenggorokkannya sakit.” Panjang lebar ibunya Dini menjelaskan.

”Sudah dibawa ke dokter, Bu?” Tanyaku sambil terus berdiri. Habis kursinya nggak ada.

”Belum. Lagi pula kalau ke dokter kan harus bayar, Bu. Yah, uangya dari mana to Bu. Bulan ini saja upah nyucinya belum dibayar. Mana becaknya rusak lagi. Sebenarnya sih sudah nyari utangan ke saudara, tapi mereka juga sama dengan kita, sedang susah.”

Sore itu juga kubawa Dini ke dokter praktik. Kebetulan tidak jauh dari rumah Dini ada tempat praktik dr. Budi, pamanku sendiri. Tempat praktik paman masih sepi, aku langsung saja masuk.

”Selamat sore, Dokter.”

”Selamat sore. Eh, kamu Sari. Sama siapa?”

”Dini Om, murid Sari di PAUD. Badannya panas, Om. Lagian nggak mau makan.”

”Coba Om periksa dulu.”

”Tenggorokannya radang. Om beri antibiotik saja, ya. Nggak lama juga akan turun panasnya.”

Setelah diberi obat, aku pamitan sama Om. Aku keluar ruangan. Di luar sudah ada dua pasien yang menunggu. Dan itu! Pandanganku tertuju pada Avansa hitam di pojok tempat parkir itu. Jantungku serasa berhenti. Itu papa! Aku pelan-pelan mengendap-endap lewat samping rumah Om Budi. Mudah-mudahan papa belum sempat melihatku.

”Sari!”

Ops! Jangkrik! Papaku tahu. Habislah aku.

”Ya, Pa.” Pelan-pelan aku menuju papa. Aku mirip tikus parit yang bertemu kucing. Menunduk. Nggak berani sedikit pun menatap papa.

”Sama siapa ini? Anak Kali Code itu, ya, ” suara papa pelan tapi berat. ”Sudah berapa kali papa bilang. Jangan ngurusi anak-anak itu lagi. Rupanya kamu masih bandel juga! Kamu ini mau jadi apa sih!” Bagai mitralyur papa menumpahkan kemarahannya padaku. Dini ketakutan. Kasihan anak ini. Ia makin mendekapku erat. Aku hanya bisa diam.

Mendengar suara ribut-ribut itu Om Budi keluar.

”Ada apa, Mas?”

”Itu lho ponakanmu itu! Bandelnya minta ampun. Sudah kubilang, jangan lagi ikut-ikutan ngajar di Kali Code, masih saja ngeyel. Mau jadi apa anak itu. Hah!”

”Sudahlah Mas, malu dilihat orang. Mari masuk!”

Papa agak reda marahnya. Beliau masuk ke ruang praktik Om Budi diiringi pandangan pasien yang mulai antri di luar. Sepintas masih sempat kulihat wajah papa yang memerah dan ekor matanya mengarah padaku. Aku begidik ngeri. Pulang nanti pasti papa melanjutkan marahnya. Ah, masa bodoh.  Aku segera memanggil becak mengantar Dini pulang.

Setelah mengantar Dini, aku bergegas ke PAUD.

”Tumben nona manis muncul ke sini. Mimpi apa tadi malam.” sambut Eka yang masih beres-beres mainan anak-anak. Aku diam saja. Eka menatapku.

”Ada apa, Ri?.”  Tanyanya. Aku tetap diam. Kualihkan perhatianku pada buku-buku yang tertata di rak.

”Bener nih nggak mau ngomong. Ya, sudah.” Dini terus menata mainan itu. Sesekali kudengar nyanyian kecil dari mulutnya. Duh, anak ini!

”Kok sepi Ka?”

”E ladalah, Ri, Ri. Ini kan hari Jumat. Memang kalau Jumat pulang jam berapa? Makanya jangan lama-lama ngilangnya. ” Aku malu sendiri. Aku baru sadar bahwa setiap Jumat anak-anak pulang lebih cepat. Mereka ngaji di TPA.

”Kamu sendirian?”

”Memang dengan siapa?”

Aku diam. Kasihan Denok, ia pontang-panting sendirian. Mengurus anak bukan hal yang mudah.  Apalagi jumlahnya 13 anak. Untung Denok keibuan dan pintar mengatur strategi. Ia sering meminta bantuan orang tua yang kebetulan tidak bekerja untuk membantunya. Metode ini efektif. Ia tidak terlalu kerepotan meski terkadang ia hanya sendirian. Masalah baru muncul jika tidak ada ibu-ibu yang menganggur.

Aku jadi malu pada diriku sendiri. Aku terlalu tega. Tidak semestinya aku membiarkan ia bekerja sendirian. Tetapi, masalah ada di depanku. Papa! Apalagi baru saja papa memergokiku mengantar Dini berobat. Pasti papa akan semakin melarangku mengajar di PAUD.

Ah, bagaimana caranya, ya. Jujur saja aku  ingin tetap mengabdikan diriku dengan mengajar di PAUD. Aku terlanjur senang mengajar anak-anak. Lagi pula kasihan anak-anak itu. Mereka butuh perhatian. Haus kasih sayang. Tetapi aku juga ingin tetap berprestasi di sekolah. Dan yang penting, aku tetap bisa menjaga hubungan baik dengan papa.

”Melamun nih! Ayam tetangggaku kemarin mati gara-gara melamun, lho.”

”Aku bingung.”

”Bingung kenapa?”

”Ya, bingung.”

Akhirnya aku cerita juga ke Denok tentang masalaku dengan papa. Denok mengerti. Ia menyarankan agar aku tetap baik pada papaku sambil terus mencari cara agar aku tetap bisa di PAUD.

Sepulang aku dari PAUD, kedua orang tuaku sudah menunngu di ruang tamu.

”Sore Pa, sore Ma!”

Mama menyambutku dengan senyum meski terasa dipaksakan. Papa sama sekali tidak menghiraukan kedatanganku. Beliau tetap asyik dengan koran di tangannya.

”Duduk!” kata papa sambil terus pura-pura membaca. Suasana kaku sekali. Mama terlihat salah tingkah sementara aku hanya bisa duduk di samping mama bagaikan robot. Begitulah kalau papa marah.

”Sudah berapa kali papa mengingatkanmu. Papa tidak suka kamu masih ngurusi anak-anak kampung itu.” Suara papa datar. Masih sambil membaca. Matanya sama sekali tidak tertuju padaku. ”Sari, kamu anak satu-satunya papa. Kamu anak kebanggaan papa. Buatlah papa bangga. Tunjukkan bahwa kamu betul-betul bisa mewujudkan harapan papa.” Kali ini papa memandangku. Aku tersanjung sekaligus gundah. Aku sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan papa. Pasti papa menginginkan agar aku tidak lagi mengajar di PAUD. Sebuah permintaan yang berat dan sulit.

Aku mengiyakan permintaan papa dan mama untuk tidak lagi mengajar di PAUD. Meski jujur kuakui itu hanya lips service saja. Yang penting aku harus pandai-pandai mengatur waktu. Toh selama ini papa dan mama melarangku gara-gara aku sering pulang menjelang magrib. Lagi pula aku jarang kelihatan belajar di rumah.

Yes! Sekolah pulang cepat. Sudah begitu ekskul sore ditiadakan. Padahal papa dan mama tahu kalau hari Senin aku full di sekolah. Langsung saja aku meluncur ke PAUD Kartika.

“Anak-anak, coba semua duduk dulu.” Suara khas Denok kudengar saat aku turun dari becak. Aku langsung masuk. Kulihat Dini duduk di kursi depan. Syukur anak itu sudah sembuh.

“Bu Sari!” Dini langsung menghambur ke arahku. Anak-anak lain memandangku. Mereka kompak menyapaku,“ Selamat siang, Bu Sari!“

„Selamat pagi anak-anak.“ Jawabku sambil menurunkan Dini dari gendonganku.

„Bu, aku punya mainan baru. Dibelikan ayah.“ Kata Ayu sambil mendekatiku. Celoteh anak-anak itu membuatku semakin mantap untuk tetap mengajar di PAUD. Masalah dengan papa? Itu urusan nanti.

Aku lalu mengajar membantu Denok yang sedang mengajak anak-anak itu mempraktikkan cara menggosok gigi yang benar. Denok mengajak anak-anak itu ke luar kelas menuju ke tepat ember-ember yang sudah disiapkan. Aku mengikuti langkahnya. Kuarahkan anak-anak itu berbaris yang rapi. Dini tetap saja ingin dekat denganku. Ia tetap saja manja seperti biasanya.

Aku pulang dengan hati berbunga-bunga. Hari ini aku dapat dekat dengan anak-anak itu sepuas-puasnya.

Sampai di rumah aku mendapati papa mamaku sedang duduk-duduk santai di sofa. Tumben beliau berdua ceria menyambutku. Senyumnya lebar lagi. Ada apa ya?

”Sari, nih!” kata papa sambil menyodorkan sampul surat berwarna coklat. ”Maaf ya, papa sudah baca dulu.”

Aku terima surat itu dengan sejuta kata tanya dalam hatiku. Surat itu lalu kubaca. Hah! Betulkah ini!? Betulkah bahwa aku dan Denok mendapat penghargaaan dari Menteri Pendidikan Nasional sebagai tokoh muda pengabdi pendidikan luar sekolah?  Betulkah bahwa penghargaan ini akan diberikan tanggal 17 Agustus ini? Di Jakarta? Di Istana Negara? Berarti…minggu depan?

”Selamat ya.” Papa mengulurkan tangannya padaku. Kuraih tangan itu dan kuhamburkan tubuhku dalam pelukan papa dan mama. Aku menangis dalam kegembiraan yang teramat sangat. Usahaku selama ini tidak sia-sia meski penghargaan itu bukan tujuanku. Aku tulus ingin membantu anak-anak itu. Tanpa tujuan apa-apa.

”Papa sekarang memberi kebebasan padamu. Tapi ingat! Belajar harus nomor satu.”

”Pasti Pa, Ma. Terima kasih Pa. Terima kasih Ma.” Kembali kupeluk kedua orang tuaku dengan keharuan yang membuncah di dadaku.

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: