PTK

PENERAPAN METODE PARTISIPATORI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS V MELALUI PEMBELAJARAN DI LUAR KELAS (OUTDOOR)

Purwanto

Abstract: Satisfying learning is longed for a teacher or student. Teacher will feel satisfy if he can present acceptable and enjoy learning for student, the other way student will happy if teacher can give an interesting and easy understanding. In order that learning feel satisfying, teacher as a main performer must always active, pro active and innovative. Active means always follow the development of education world. Proactive means always create on approach to the student about his wish in learning application methode. While innovative means always willing to try a way to present an excellent and satisfying learning for student. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) give a freedom to the teacher for develop learning which excellent and satisfying appropriate with school condition.

Key words: active learning, proactive, innovative, satisfying, KTSP

Latar Belakang

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005, Pasal 19, ayat 1 dengan tegas menyatakan bahwa:

”Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.”

Belajar merupakan suatu kegiatan aktif siswa dalam membangun pemahaman terhadap suatu konsep. Pembelajaran merupakan suatu interaksi antara pembelajar, pengajar, dan bahan ajar. Ketercapaian tujuan pembelajaran merupakan suatu keberhasilan dalam menyelenggarakan suatu pendidikan.

________________________________________________________________________

Penulis adalah guru SD Nasional KPS Balikpapan

Agar tercapai tujuan pembelajaran, perlu dicari langkah-langkah yang dapat diterima, baik oleh pengajar maupun oleh pembelajar. Salah satu cara itu adalah diterapkannya metode belajar mengajar yang menyenangkan, terarah, dan dapat dilaksanakan dengan tidak mengurangi esensi pembelajaran.

Metode Penelitian

Penelitian ini meggunakan metode kuantitatif dengan cara menyampaikan gagasan-gagasan penulis yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa Indonesia khususnya, pengajaran pembuatan puisi di kelas V dengan dukungan buku-buku dari pakar-pakar pendidikan baik yang langsung berhubungan dengan pengajaran bahasa Indonesia maupun yang berupa kajian penerapan metode-metode pembelajaran.

Sasaran gagasan ini adalah guru bahasa Indonesia kelas V dengan pertimbangan bahwa metode pembelajaran dengan menggunakan metode partisipatori di luar ruang kelas (outdoor) cocok digunakan pada siswa minimal kelas V. Hal ini disebabkan siswa kelas V sudah mempunyai kemandirian dalam mengerjakan tugas dan sudah mempunyai imajinasi yang cukup untuk membuat puisi.

Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia

Pembelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memilki kemampuan sebagai berikut:

Berkomuikasi secara efektif dan efisien sesuai etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis.
Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara.
Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial.
Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

(Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2004)

Aspek Keterampilan Berbahasa

Ada 4 aspek keterampilan berbahasa yang akan dikembangkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Keempat aspek tu adalah aspek:

Menyimak (Listening Skill)
Berbicara (Speaking Skill)
Membaca (Reading Skill)
Menulis (Writing Skill)

Hubungan keempat keterampilan berbahasa tersebut dapat dijabarkan dalam tabel berikut:

MENYIMAK

Langsung

Apresiatif

Reseptif

Fungsional

Komunikasi tatap muka

BERBICARA

Langsung

Produktif

ekspresif

KETERAMPILAN BERBAHASA

MENULIS

Tak langsung

Produktif

Ekspresif

Komunikasi tidak tatap muka

MEMBACA

Tak langsung

Apresiatif

fungsional

(Tarigan. 2002:2)

Dalam penyajian pembelajaran, keempat keterampilan tersebut saling berhubungan. Keterampilan menyimak erat kaitannya dengan keterampilan berbicara sedangkan keterampilan membaca erat kaitannya dengan keterampilan menulis. Bahkan keempat keterampilan tersebut dapat disajikan secara bersamaan dengan penekanan pada salah satu keterampilan.

Setiap keterampilan itu erat sekali berhuungan dengan tiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka ragam. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang tratur: mla-mula pada masa kecil kita belajar enyimak bahasa kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca dan menulis. Menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah. Keepat keterampilan tesebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur-tunggal (Tarigan, 1982:1)

Keterampilan menulis (writing skill) merupakan suatu kegiatan aktif – produktif yang hendak dikembangkan dalam suatu pembelajaran. Keterampilan menulis memerlukan latihan yang berkesinambungan sampai pada suatu kondisi di mana pembelajar menguasai bidang itu.

Standar kompetensi menulis di kelas V adalah mengungkapkan pikiran, perasaan informasi, dan fakta secara tertulis dalam bentuk ringkasan, laporan, dan puisi bebas. Sedangkan kompetensi dasarnya adalah menulis puisi bebas dengan pilihan kata yang tepat.

Muara akhir dari pembelajaran puisi bukan menjadikan siswa sebagai penyair, tetapi menjadikan siswa terampil menulis puisi.

Metode Partisipatori

Pengertian

Metode partisipatori adalah metode pembelajaran yang lebih menekankan keterlibatan siswa secara penuh.

Penerapan Metode Partisipatori

Metode partisipatori diterapkan ketika guru mengharapkan peran siswa secara penuh. Adapun ciri yang menonjol dari metode partisipatori adalah:

Belajar dari realitas atau pengalaman
Tidak menggurui
Dialogis

Prinsip Dasar Metode Partisipatori

Berkaitan dengan penyikapan guru kepada siswa, partisipatori beranggapan bahwa:

Setiap siswa adalah unik. Siswa mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Oleh karena itu, proses penyeragaman dan penyamarataan akan membunuh keunikan tersebut. Keunikan harus diberi tempat dan dicarikan peluang agar dapat lebih berkembang.
Anak bukan orang dewasa dalam bentuk kecil. Jalan pikir anak tidak selalu sama dengan jalan pikir orang dewasa. Orang dewasa harus dapat menyelami cara merasa dan berpikir anak-anak.
Dunia anak adalah dunia bermain
Usia anak merupakan usia yang paing kreatif dalam hidup manusia (Materi Pelatihan Terintergasi Bahasa Indonesia. 2004:41).

Dalam metode partisipatori, siswa aktif, dinamis, dan berlaku sebagai subjek.Keaktifan siswa berupa melakukan kegiatan secara mandiri.Namun, bukan berarti guru harus pasif, tetapi guru juga aktif dalam memfasilitasi belajar siswa dengan suara, gambar, tulisan dinding, dan sebagainya. Guru berperan sebagai pemandu yang penuh motivasi, pandai berperan sebagai mediator, dan kreatif.

Sebagai pemandu, guru diharapkan memiliki watak sebagai berikut:

1. Kepribadian yang menyenangkan dengan kemampuannya menunjukkan persetujuan dan apa yang dipahami partisipan.

2. Kemampuan sosial dengan kecakapan menciptakan dinamika kelompok secara bersama-sama dan mengontrolnya tanpa merugikan partisipan.

3. Mampu mendesain cara memfasilitasi yang dapat membangkitkan partisipan selama proses berlangusng.

4. Kemampuan mengorganisasi proses dari awal hingga akhir.

5. Cermat dalam melihat persoalan pribadi partisipan dan berusaha memberikan jalan agar partisipan menemukan jalannya.

6. Memiliki ketertarikan kepada subjek belajar.

7. Fleksibel dalam merespon perubahan kebutuhan belajar partisipan.

8. Pemahaman yang cukup atas materi pokok kursus (pembelajaran, red)

( Freiri dalam Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia, 2004:41)

Alasan Penggunaan Metode Partisipatori

1. Metode partisipatori menekankan keterlibatan siswa secara penuh.

2. Siswa ditempatkan sebagai subjek pembelajaran

3. Kegiatan belajar mengajar diharapkan berlangsung menyenangkan

4. Terjadi interaksi positif antara pengajar dengan pembelajar.

Hernowo (2004:61) menyatakan bahwa dewasa ini ada kecenderungan untuk kembali ke pemikiran bahwa anak didik akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah.

Kegiatan belajar mengajar akan menarik dan disukai oleh para siswa jika guru dapat mengemas materi pembelajaran dengan sebaik-baiknya. Salah satu cara untuk menjadikan pembelajaran itu menarik adalah dengan melakukan pembelajaran di luar ruang kelas (outdor). Namun demikian, kegiatan ini sebaiknya diprogram dengan baik agar lebih mengenai sasaran.

Manfaat Pembelajaran Puisi di Luar Kelas (outdoor)

1. Outdoor digunakan untuk mendekatkan pembelajar dengan objek pembelajaran.

Materi pembelajaran akan mudah diterima oleh pembelajar karena objek pembelajaran bersifat konkret sehingga siswa tidak hanya mengira-kira objek pembelajaran berdasarkan imajinasinya semata. Misalnya: guru bahasa Indonesia memberi tugas untuk membuat puisi bertema bebas.

Jika materi ini disampaikan di kelas maka siswa sedikit sekali mendapat gambaran tentang objek yang akan dibuat puisi . Mereka mendapat gambaran objek hanya dari imajinasinya dan benda-benda yang ada di ruang kelas.

Hal ini berbeda jika guru membawa siswa ke luar kelas. Mereka akan mendapat banyak pilihan tentang objek yang akan dituangkan ke dalam puisi. Selain itu, berhadapan dengan objek langsung akan memperkuat imajinasi siswa.

2. Outdoor dapat mengatasi kejenuhan siswa berkreasi membuat puisi

Belajar di dalam ruangan dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan siswa (juga guru) merasa jenuh. Hal ini disebakan kurangnya variasi pandangan dan ojek yang dipelajarinya. Kejenuhan ini bisa dilihat dari perilaku siswa yang tidak terfokus pada materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Misalnya; siswa beberapa kali menguap (meskipun sebenarnya ia tidak sedang menguap), melayangkan pandangan ke luar ruangan, menggambar, mengganggu temannya, dan sebagainya.

Membuat puisi memerlukan suatu kondisi yang tenang dan inspiratif. Jika kegiatan itu hanya diakukan dalam suatu ruang dengan pandangan yang terbatas, maka siswa akan merasa kurang nyaman. Kalau keadaan ini berlangsung dalam kurun waktu yang relatif lama atau dalam tingkat keseringan yang tinggi, maka tidak menutup kemungkinan siswa akan merasa jenuh yang berakibat tidak berkembangnya keingingan siswa untuk lebih kreatif membuat puisi.

Agar siswa tidak merasa jenuh, guru perlu mengajak siswa belajar di luar ruang kelas. Tentu saja sebelumnya guru telah melakukan persiapan tentang tempat dan objek yang akan digunakan sebagai media pembelajaran.

3. Outdoor meningkatkan kreatifitas siswa

Dengan melihat langsung objek pembelajaran dan didukung oleh suasana alam terbuka menjadikan siswa lebih kreatif dalam membuat puisi. Hal ini disebabkan siswa dengan mudah menemukan inspirasi dan dapat membandingkan antara puisi yang dibuatnya dengan puisi buatan temanya.

”Tidak kenal maka tidak sayang”, kata peribahasa. Memang banyak cara untuk menimbulkan serta mempertinggi apresiasi masyarakat kita terhadap puisi ini, dan salah satu di antaranya adalah dengan jalan mengetahui seluk-beluk proses penciptaan puisi itu, sebab dengan demikian mereka menganggap bahwa mereka turut mengalami apa-apa yang telah dialami oleh penyair ( Tarigan, 1984:59).

.

4.Outdoor dapat meningkatkan kebersamaan dan kesetiakawanan siswa

Pada umumnya guru yang memberikan materi pembelajaran di luar ruang kelas menyertakan pula tugas kelompok kepada siswa (misalnya membuat yel-yel sebelum kelompok itu tampil membacakan puisinya). Siswa yang mengerjakan tugas guru di luar ruang kelas ini terlihat lebih aktif dan agresif. Tampak kebersamaan dalam mengerjakan tugas.

5. Outdoor memberikan inspirasi kepada pembelajar untuk menemukan gambaran nyata tentang objek yang akan dituangkan dalam puisinya sekaligus memotivasi pembelajar untuk lebih produktif membuat puisi.

Dengan melihat berbagai objek, sisiwa lebih mudah menemukan inspirasi dalam membuat puisi. Hal ini dapat menyebabkan keyakinan siswa yang tiggi bahwa membuat puisi itu tidaklah sulit. Jika kesadaran ii telah tertanam pada sisiwa, maka peran guru tinggal memotivasi kepada siswa ntuk menciptakan puisi dalam berbagai peristiwa.

Motivasi guru begitu penting bagi siswa. Dengan motivasi, kebiasaan positif dapat ditingkatkan. Siswa dan guru lebih bersemangat. Hubungan antara pengajar dan pembelajar pun akan lebih harmonis.

Daniel Goleman (1996:164) menyatakan bahwa sinkroni antara guru dan murid-muridnya menunjukkan seberapa jauh hubungan yang mereka rasakan; studi-studi di kelas membuktikan bahwa semakin erat koordinasi gerak antara guru dan murid, semakin besar perasaan bersahabat, bahagia, antusias, minat, dan adanya keterbukaan ketika melakukan interaksi.

Skenario Pembelajaran Puisi di Luar Kelas (outdoor) Dengan Metode Partisipatori

a. Perencanaan

Perencanaan diperlukan karena guru memerlukan pedoman konkret ketika akan melakukan pengajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas (outdoor). Sebelum seorang guru mengajar, tentu dia berpikir tentang apa yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran nanti. Bahan pembelajaran dan strategi apa yang akan dilakukan ketika akan mengajar.

Demikian juga jika guru bahasa Indonesia kelas V akan mengajarkan puisi dengan setting pembelajaran di luar ruang kelas. Guru bahasa Indonesia itu hendaknya melakukan perencanaan yang matang berkaitan dengan pembelajaran yang akan disampaikan.

Perencanaan yang bisa dilakukan adalah:

a.1. Guru mengadakan survey lingkungan yang akan digunakan sebagai objek

pembelajaran.

Lingkungan yang akan dijadikan tepat pembelajaran sebaiknya dekat

dengan sekolah dan tidak membahayakan bagi anak-anak. Hindari tempat

yang emunkinkan anak berada di luar jangkauan guru, misalnya di pantai, di

hutan, di sungai, dan lain-lain.

a. 2. Guru menentukan objek yang akan digunakan pembelajar untuk membuat

puisi (Misalnya: tema kebersihan lingkungan, tema tumbuh-tumbuhan, tema

alam, dan sebagainya).

a.3. Guru menentukan tempat yang akan digunakan oleh pembelajar untuk

mengerjakan tugas pembuatan puisi.

Tempat yang digunakan untuk membuat puisi diusahakan suasananya

tenang, bukan jalan yang biasa digunakan lalu-lalang dan jauh dari

keramaian. Tempat yang memunkingkan untuk membuat uisi misalnya di

halaman sekolah, di taman sekolah (kalau ada), di belakang sekolah.

b. Persiapan

Pembelajaran bukan hanya berarti mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap baru yang tumbuh saat seorang individu berinteraksi dengan informasi dan lingkungan, dan terjadi di setiap waktu. Pembelajaran mencakup juga pemilihan, penyusunan, dan penyampaian informasi dalam suatu lingkungan yang sesuai dengan situasi dan kondisi baik pengajar maupun pembelajar.

Lingkungan tidak hanya tempat yang digunakan saat pengajaran berlangsung tetapi juga metode, media, dan peralatan yang diperlukan pengajar untuk menyampaikan informasi dan membimbing pembelajar untuk belajar.

Jika pembelajarn bertumpu pada kegiatan bagaimana siswa belajar (student centre) maka pengajar harus menyampaikan rambu-rambu dan informasi yang sejelas-jelasnya kepada para siswa.

Hal yang harus dilakukan oleh guru bahasa pada saat mengadakan kegiatan pembelajaran puisi di luar kelas adalah:

a.1. Guru menyampaikan topik pembelajaran pada hari itu yaitu keterampilan

menulis dengan kompetensi dasar menulis puisi dengan tema bebas.

a.2. Guru menyampaikan bahwa kegiatan pembelajaran berlangsung di luar kelas

(outdoor) dengan tempat yang telah ditentukan.

a.3. Guru menyampaikan tentang tugas yang harus dikerjakan siswa yaitu

membuat puisi dengan tema bebas (jumlah dan bentuk bait bisa juga

disampaikan oleh guru).

c. Pelaksanaan

c. 1. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok

c. 2. Setiap kelompok diberi tempat mengerjakan yang berbeda.

c. 3. Guru memberi batas waktu membuat puisi (misalnya 50 menit)

c. 4. Guru meminta siswa kembali ke kelas dalam batas waktu yang telah

ditentukan.

c.5. Selama pelaksanaan, guru tetap berada di tengah-tengah siswa (untuk

mengantaisipasi jika ada pertanyaan-pertanyaaan dan agar kegiatan tetap

berlangsung dengan tertib).

d. Evaluasi

d. 1. Guru menyampaikan kriteria penilaian pembacaan puisi yang telah dibuat

siswa.

d. 2. Guru meminta setiap siswa menampilkan puisinya.

d. 3. Guru memberikan apresiasi kepada siswa dengan penamplan terbaik sesuai

dengan penilaian guru dan tanggapan para siswa.

e. Refleksi

e. 1. Guru menanyakan kepada siswa tentang pembelajaran pada saat itu.

e. 2. Guru memberikan motivasi kepada para siswa.

Hasil yang Diharapkan

1. Siswa mendapat inspirasi dari lingkungan sekitar untuk membuat puisi

2. Siswa dapat mengembangkan imajinasi

3. Siswa memperoleh kebebasan berkarya

4. Siswa memperoleh banyak pilihan objek yang akan dituangkan ke dalam puisinya

5. Pembelajaran berlangsung menyenangkan

6. Meningkatkan keterampilan menulis puisi

7. Penulisan puisi menggugah rasa bermain dengan kata-kata dan struktur kalimat. Kegiatan ini membantu mengembangkan kesadaran akan pengibaratan dan metafora, serta irama, sembari memperlihatkan kekuatan dalam menulis singkat dan ringkas (Mary Leonhardt 2001:57).

Kesimpulan

Guru bahasa Indonesia diharapkan merupakan figur guru yang inovatif dengan menciptakan berbagai metode belajar yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan merupakan tolok ukur dari tercapainya tujuan pembelajaran.

Metode partisipatori yang dipadukan dengan pembelajaran di luar kelas dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang menyenangkan khususnya pada pembelajaran penulisan puisi dengan tema bebas.

Saran

1. Guru perlu mencoba berbagai metode pembelajaran dengan tujuan agar pembelajaran

berlangsung dengan menyenangkan, terukur, dan terarah.

2. Metode partisipatori dengan pembelajaran di luar ruang kelas (outdoor) dapat

diujicobakan dalam pembelajaran menulis puisi dengan tujuan mendekatkan objek

dengan tema pembelajaran.

Daftar Pustaka:

Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan

Pertama.2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta:

Depdiknas.

Hernowo. 2005. Menjadi Guru. Bandung: Penerbit MLC.

Goleman, Daniel. 1996. Emotional Intelligance. Jakarta: Gramedia.

Leonhardt, Mary .2001. Cara Menjadikan Anak Anda Bergairah Menulis. Bandung:

Penerbit Kaifa

Tarigan, Henry Guntur. 1982. Menulis Sebagai Suatu Keterampian Berbahasa.

Bandung: Penerbit Angkasa.

Tarigan, Henry Guntur . 1984. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Penerbit

Angkasa.

Leave a comment »

Mengapa Kita Harus Berdzikir?

.Membuat hati menjadi tenang.
Allah berfirman,
”Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar Ra’d : 28)

Banyak orang yang ketika mendapat kesulitan maka mereka mencari cara–cara yang salah untuk dapat mencapai ketenangan hidup. Diantaranya dengan mendengarkan musik yang diharamkan Allah, meminum khamr atau bir atau obat terlarang lainnya. Mereka berharap agar bisa mendapatkan ketenangan. Yang mereka dapatkan bukanlah ketenangan yang hakiki, tetapi ketenangan yang semu. Karena cara–cara yang mereka tempuh dilarang oleh Allah dan Rasul–Nya.

Ingatlah firman Allah Jalla wa ’Ala di atas, sehingga bila kita mendapat musibah atau kesulitan yang membuat hati menjadi gundah, maka ingatlah Allah, insya Allah hati menjadi tenang.

2.Mendapatkan pengampunan dan pahala yang besar.

“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Ahzab : 35)

3.Dengan mengingat Allah, maka Allah akan ingat kepada kita.
Allah berfirman,
“Karena itu, ingatlah kamu kepada Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan)”. (Al Baqarah : 152)

4.Dzikir itu diperintahkan oleh Allah agar kita berdzikir sebanyak–banyaknya.
Firman Allah ‘Azza wa Jalla
“Hai orang–orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak–banyaknya. Dan bertasbihlah kepada – Nya di waktu pagi dan petang.” (Al Ahzab : 41 – 42)

5.Banyak menyebut nama Allah akan menjadikan kita beruntung.

“Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Al Anfal : 45)

Pada Al Qur’an dan terjemahan cetakan Al Haramain terdapat footnote bahwa menyebut nama Allah sebanyak – banyaknya, maksudnya adalah memperbanyak dzikir dan doa.

6.Dzikir kepada Allah merupakan pembeda antara orang mukmin dan munafik, karena sifat orang munafik adalah tidak mau berdzikir kepada Allah kecuali hanya sedikit saja. (Khalid Al Husainan, Aktsaru min Alfi Sunnatin fil Yaum wal Lailah, Daar Balansiyah lin Nasyr wat Tauzi’, Riyadh, Terj. Zaki Rahmawan, Lebih dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Bogor, Cetakan I, Juni 2004 M, hal. 158).

Allah berfirman,
“Sesungguhnya orang – orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (An Nisaa’ : 142)

7.Dzikir merupakan amal ibadah yang paling mudah dilakukan.
Banyak amal ibadah yang sebetulnya mudah untuk kita lakukan. Semisal :
– Membaca basmillah ketika akan makan / minum
– Membaca doa keluar / masuk kamar mandi
– Membaca dzikir – dzikir sewaktu pagi dan petang
– Membaca doa keluar / masuk rumah
– Membaca doa ketika turun hujan
– Membaca dzikir setelah hujan turun
– Membaca doa ketika berjalan menuju masjid
– Membaca dzikir ketika masuk / keluar masjid
– Membaca hamdalah ketika bersin
– Membaca dzikir – dzikir ketika akan tidur
– Membaca doa ketika bangun tidur

Dan lain–lain banyak sekali amalan yang mudah kita lakukan. Bila kita tinggalkan, maka rugilah kita berapa banyak ganjaran yang harusnya kita dapat, tetapi tidak kita peroleh padahal itu mudah untuk diraih. Coba saja hitung berapa banyak kita keluar masuk kamar mandi dalam sehari?

DZIKIR HARUS SESUAI DENGAN ATURAN ISLAM

Dzikir adalah perkara ibadah, maka dari itu dzikir harus mengikuti aturan Islam. Ada dzikir – dzikir yang sifatnya mutlak, jadi boleh dibaca kapan saja, dimana saja, dan dalam jumlah berapa saja karena memang tidak perlu dihitung.

Tetapi ada juga dzikir – dzikir yang terkait dengan tempat, misal bacaan – bacaan dzikir ketika mengelilingi (thawaf) di Ka’bah. Ada juga dzikir yang terkait dengan waktu, misal bacaan dzikir turun hujan. Juga ada dzikir yang terkait dengan bilangan, misal membaca tasbih, tahmid, dan takbir dengan jumlah tertentu (33 kali) setelah shalat wajib. Tentu tidak boleh ditambah – tambah kecuali ada dalil yang menerangkannya.

Kalau seseorang membuat sendiri aturan – aturan dzikir yang tidak diterangkan oleh Islam, maka berarti dia telah membuat jalan yang baru yang tertolak. Karena sesungguhnya jalan – jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah itu telah diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Patutkah kita menempuh jalan baru selain jalan yang telah diterangkan oleh Rasul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Tentu tidak, karena Agama Islam ini telah sempurna. Kita harus mencukupkan dengan jalan yang telah diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.

Referensi :
1.Al Qur’an
2.Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Dzikir Pagi dan Petang dan Sesudah Shalat Fardhu, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Cetakan I, Desember 2004
3.Khalid Al Husainan, Aktsaru min Alfi Sunnatin fil Yaum wal Lailah, Daar Balansiyah lin Nasyr wat Tauzi’, Riyadh, Terj. Zaki Rahmawan, Lebih dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Bogor, Cetakan I, Juni 2004 M

Sumber:Chandraleka
hchandraleka(at)gmail.com

Leave a comment »

Manajemen Qolbu

Apa itu MQ? Sebenarnya tidak ada perbedaan antara MQ dengan metode dakwah Islam lainnya. di dalamnya pun tidak ada yang baru, semuanya merupakan penjabaran ajaran Islam. Hanya pembahasannya lebih diperdalam, dibeberkan dengan cara yang aktual, dengan inovasi dan kreativitas dakwah yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman. Inti pembelajarannya sendiri ada pada qolbu.

Di dalam tubuh ini ada akal, jasad, dan qolbu. Akal membuat orang bisa bertindak lebih efektif dan efisien dalam melakukan apa yang ia inginkan. Sedangkan tubuh bertugas melakukan apa yang diperintahkan oleh akal. Sebagai contoh, apabila akal menginginkan tubuh mampu berkelahi, maka tubuh akan berlatih agar menjadi kuat. Sayangnya, tidak sedikit orang yang cerdas, orang yang begitu gagah perkasa, tapi tidak menjadi mulia, bahkan sebagian diantaranya membuat kehinaan karena berbuat jahat. Mengapa? Sebab ada satu yang membimbing akal dan tubuh yang belum diefektifkan, itulah qolbu.
(Sumber: Abdullah Gimnastiar)

Leave a comment »

Sore hari di rumah. Burung walet menyasar atas rumahku. Tidak hanya satu. Puluhan. Suasana syahdu. Hembusan angin menyentuh lembut kulitku.

Leave a comment »

Cerpen

Terima Kasih, Bu Guru

     Aku tidak habis pikir dengan cara pandang orang tuaku, terutama papa. Beliau menentangku habis-habisan keterlibatanku sebagai tenaga pengajar di PAUD Kartika. Padahal anak-anak di sana perlu perhatian. Perlu uluran tangan dan kasih sayang.

Orang tuanya tidak ada waktu untuk memperhatikan anak-anaknya. Pun mereka sudah kelelahan mencari nafkah seharian.

Sebagian besar warga bantaran Kali Code pekerja kasar. Yang laki-laki rata-rata jadi penarik becak. Ada juga yang jadi kuli bangunan, buruh angkut di Pasar Beringharjo, dan tidak sedikit jadi pengamen. Hal ini memaksa ibu-ibunya untuk mencari tambahan penghasilan dengan menjadi buruh cuci, penjual jamu gendong,  bahkan ada juga yang menjadi penarik becak. Bahkan,  kudengar ibunya Joko itu malah menjadi satpam. Ck..ck…ckkk! Hebat! Ini namanya emansipasi wanita. Meski emansipasi yang kebablasan.

Tidak ada warga bantaran Kali Code ini yang kehidupannya berkecukupan. Apalagi sejahtera. Semuanya prasejahtera. Semuanya serba kekurangan.  Anak-anak dengan perut buncit, wajah kuyu dan hidung yang ingusan mendominasi hampir semua anak di wilayah ini. Padahal mereka adalah generasi yang kelak diharapkan mampu bersaing. Tetapi,  bagaimana mau bersaing sedang untuk urusan makan saja  susah.

Biar urusan ekonomi seret, tetapi urusan pendidikan boleh diacungi jempol. Di sini banyak pendidikan luar sekolah. Ada PAUD. PAUD itu singkatan dari Pendidikan Anak Usia Dini. Program pendidikan ini untuk anak-anak prasekolah.  Ada juga program  Paket A setara SD di sekolah formal. Ada Paket B untuk anak-anak usia sekolah setara SMP. Bahkan ada Paket C untuk anak yang tidak bisa sekolah formal di SMA. Pengajarnya pun banyak. Rata-rata anak mahasiswa. Yang masih SMA hanya aku.

***

     ”Papa tidak mau sekolahmu terbengkalai, Nduk. Gagal. Papa ingin kamu terus sekolah dan berprestasi. Kuliah. Jadi dokter.  Itu dambaan Papa. Papa tidak ingin kamu keasyikan dengan anak-anak tidak jelas itu.”

”Tapi Pa, Sari bisa membagi waktu, Pa.” potongku.

”Stop! Jangan bantah papa!” Papaku marah. Aku terpaksa mengalah. Papaku orangnya keras. Setiap perkataannya harus dituruti. Tidak ada yang boleh membantah.

Sudah tiga hari ini aku tidak ke PAUD Kartika. Tentu Denok, teman mengajarku di sana, kerepotan mengajar meski ada Mbak Eka dan Mbak Tini yang entah beberapa hari sekali datang membantu.

Mbak Eka memang tidak begitu serius mengajar di PAUD. Ia kadang mengeluh tentang lingkungannya  yang kotor dan jorok. Makanya anak-anak tidak begitu dekat dengannya. Mbak Tini juga begitu. Ia setali tiga uang dengan Mbak Eka. Kedua mahasiswi itu ikut mengajar dengan tendensi tertentu;  supaya dicap sosial.

Kalau  Denok memang militan. Gadis ayu anak pak lurah yang baru lulus D3 itu betul-betul membuatku heran sekaligus simpatik. Ia terjun total di PAUD. Meski tidak dibayar. Meski ia harus naik angkot dari rumahnya, ia tetap saja datang setiap hari. Anak-anak pun begitu lengket dengannya.

Hp-ku berbunyi.

”Ke mana saja sih kok nggak pernah kelihatan. Kamu tega ya. E, kau tahu nggak, kemarin Dini sakit.”

”Sakit apa?”  balasku.

”Panas! Panasnya tinggi. Ia selalu menyebut-nyebut namamu.”

Deg! Dini , bocah berusia empat tahun itu sakit. Sakit panas? Panasnya tinggi? Jangan-jangan demam berdarah. Bantaran Kali Code kan kumuh. Banyak nyamuknya. Apalagi pada bulan ini saja sudah tiga anak kena DB. Kasihan dia. Pasti tidak ada yang mengurus. Dini itu begitu dekat denganku. Ia selalu manja jika aku datang. Mintanya digendong terus. Lalu biasanya ia mengadu tentang makannya dan orang tuanya. Ia biasanya cerita bahwa ibunya pelit soal makanan. Ia dilarang tambah. Lain waktu dia akan cerita kalau ayahnya bertengkar dengan ibunya. Bahkan yang lebih ngeri, ia pernah cerita bahwa ibunya dicekik ayahnya. Ah, anak malang.

Dini memanggilku Bu. Bu Sari.  Aku terkadang terharu mendengar panggilannya itu. Sesekali geli juga. Aku baru kelas 3 SMA. Pun masih manja sama orang tuaku. Tetapi aku sudah dianggap sebagai seorang ibu. Hi hi hi, lucu!

Aku segera beres-beres kamar. Kusahut tasku.

”Ke mana Nduk?”

”Eh, ke rumah teman, Ma. Ada tugas kelompok yang mesti kuselesaikan. Itu lho PR Matematika. Susahnya minta ampun. Mana gurunya galak lagi!” kataku membohongi mama.“ Ma, mungkin Sari malam baru pulang.”

”Jangan lupa telepon papamu biar dijemput.”

”Nggak usah, Ma. Aku nanti naik angkot saja!”

”Nggak! Telepon dulu. Nanti papamu marah. Kalau papamu marah, mama ini kena omel terus. Lagi pula nanti malam mama sudah masak yang enak. Kita makan malam sama-sama, ya.” Katanya sambil memegang tanganku.

”Iya, ya!”

Ibuku memang over protective. Paling judes kalau aku mau keluar.  Maklum aku anak kebanggan papa. Anak satu-satunya lagi. Jadi mau kepada siapa lagi beliau mencurahkan perhatian kalau tidak kepadaku.

Sejurus kemudian aku sudah sampai di rumah Dini. Rumah ukuran 3X3 berdinding gedek itu tampak sepi. Sengaja aku tidak mampir ke PAUD dulu. Biarlah Denok yang mengurusi anak-anak

”Kulonuwun.”

Sepi. Tidak ada sahutan. Kulongokkan kepalaku ke dalam.

”Kulonuwun.”  Masih nggak ada sahutan. Kuberanikan diriku masuk ke rumah. Nggak ada siapa-siapa. Pelan-pelan aku menyibak kain usang yang berfungsi sebagai gorden itu.

Kulihat Dini tidur di tikar sendirian. Pelan-pelan kudekati dia. Punggung tanganku kutempelkan di keningnya. Panas! Aku panik. Jangan-jangan DB!

Mendadak Dini bangun. Ia lalu loncat dan memelukkku.

”Ibuuuu…! Bu Sari ke mana saja, sih? Dini kangen. Dini sakit Bu. Sakit panas.”

Tenggorokanku tercekat. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Kubelai-belai rambutnya. Tak terasa bulir-bulir air mataku membasahi pipiku.

”Bu Sari menangis ya, ibu  sedih, ya. Bu, Dini sudah makan Bodrexin lho. Enak. Manis. ”

Dini terus saja bercerita. Anak ini memang banyak bicara. Omongannya lucu. Aku diam saja.

”E, ada tamu. Sudah lama, Bu?”

”Belum, Bu.”

”Sudah berapa hari Dini sakit, Bu?”

”Sudah tiga hari. Kadang panas, kalau diberi Bodrexin panasnya turun. Makannya itu lho, Bu, susah. Katanya tenggorokkannya sakit.” Panjang lebar ibunya Dini menjelaskan.

”Sudah dibawa ke dokter, Bu?” Tanyaku sambil terus berdiri. Habis kursinya nggak ada.

”Belum. Lagi pula kalau ke dokter kan harus bayar, Bu. Yah, uangya dari mana to Bu. Bulan ini saja upah nyucinya belum dibayar. Mana becaknya rusak lagi. Sebenarnya sih sudah nyari utangan ke saudara, tapi mereka juga sama dengan kita, sedang susah.”

Sore itu juga kubawa Dini ke dokter praktik. Kebetulan tidak jauh dari rumah Dini ada tempat praktik dr. Budi, pamanku sendiri. Tempat praktik paman masih sepi, aku langsung saja masuk.

”Selamat sore, Dokter.”

”Selamat sore. Eh, kamu Sari. Sama siapa?”

”Dini Om, murid Sari di PAUD. Badannya panas, Om. Lagian nggak mau makan.”

”Coba Om periksa dulu.”

”Tenggorokannya radang. Om beri antibiotik saja, ya. Nggak lama juga akan turun panasnya.”

Setelah diberi obat, aku pamitan sama Om. Aku keluar ruangan. Di luar sudah ada dua pasien yang menunggu. Dan itu! Pandanganku tertuju pada Avansa hitam di pojok tempat parkir itu. Jantungku serasa berhenti. Itu papa! Aku pelan-pelan mengendap-endap lewat samping rumah Om Budi. Mudah-mudahan papa belum sempat melihatku.

”Sari!”

Ops! Jangkrik! Papaku tahu. Habislah aku.

”Ya, Pa.” Pelan-pelan aku menuju papa. Aku mirip tikus parit yang bertemu kucing. Menunduk. Nggak berani sedikit pun menatap papa.

”Sama siapa ini? Anak Kali Code itu, ya, ” suara papa pelan tapi berat. ”Sudah berapa kali papa bilang. Jangan ngurusi anak-anak itu lagi. Rupanya kamu masih bandel juga! Kamu ini mau jadi apa sih!” Bagai mitralyur papa menumpahkan kemarahannya padaku. Dini ketakutan. Kasihan anak ini. Ia makin mendekapku erat. Aku hanya bisa diam.

Mendengar suara ribut-ribut itu Om Budi keluar.

”Ada apa, Mas?”

”Itu lho ponakanmu itu! Bandelnya minta ampun. Sudah kubilang, jangan lagi ikut-ikutan ngajar di Kali Code, masih saja ngeyel. Mau jadi apa anak itu. Hah!”

”Sudahlah Mas, malu dilihat orang. Mari masuk!”

Papa agak reda marahnya. Beliau masuk ke ruang praktik Om Budi diiringi pandangan pasien yang mulai antri di luar. Sepintas masih sempat kulihat wajah papa yang memerah dan ekor matanya mengarah padaku. Aku begidik ngeri. Pulang nanti pasti papa melanjutkan marahnya. Ah, masa bodoh.  Aku segera memanggil becak mengantar Dini pulang.

Setelah mengantar Dini, aku bergegas ke PAUD.

”Tumben nona manis muncul ke sini. Mimpi apa tadi malam.” sambut Eka yang masih beres-beres mainan anak-anak. Aku diam saja. Eka menatapku.

”Ada apa, Ri?.”  Tanyanya. Aku tetap diam. Kualihkan perhatianku pada buku-buku yang tertata di rak.

”Bener nih nggak mau ngomong. Ya, sudah.” Dini terus menata mainan itu. Sesekali kudengar nyanyian kecil dari mulutnya. Duh, anak ini!

”Kok sepi Ka?”

”E ladalah, Ri, Ri. Ini kan hari Jumat. Memang kalau Jumat pulang jam berapa? Makanya jangan lama-lama ngilangnya. ” Aku malu sendiri. Aku baru sadar bahwa setiap Jumat anak-anak pulang lebih cepat. Mereka ngaji di TPA.

”Kamu sendirian?”

”Memang dengan siapa?”

Aku diam. Kasihan Denok, ia pontang-panting sendirian. Mengurus anak bukan hal yang mudah.  Apalagi jumlahnya 13 anak. Untung Denok keibuan dan pintar mengatur strategi. Ia sering meminta bantuan orang tua yang kebetulan tidak bekerja untuk membantunya. Metode ini efektif. Ia tidak terlalu kerepotan meski terkadang ia hanya sendirian. Masalah baru muncul jika tidak ada ibu-ibu yang menganggur.

Aku jadi malu pada diriku sendiri. Aku terlalu tega. Tidak semestinya aku membiarkan ia bekerja sendirian. Tetapi, masalah ada di depanku. Papa! Apalagi baru saja papa memergokiku mengantar Dini berobat. Pasti papa akan semakin melarangku mengajar di PAUD.

Ah, bagaimana caranya, ya. Jujur saja aku  ingin tetap mengabdikan diriku dengan mengajar di PAUD. Aku terlanjur senang mengajar anak-anak. Lagi pula kasihan anak-anak itu. Mereka butuh perhatian. Haus kasih sayang. Tetapi aku juga ingin tetap berprestasi di sekolah. Dan yang penting, aku tetap bisa menjaga hubungan baik dengan papa.

”Melamun nih! Ayam tetangggaku kemarin mati gara-gara melamun, lho.”

”Aku bingung.”

”Bingung kenapa?”

”Ya, bingung.”

Akhirnya aku cerita juga ke Denok tentang masalaku dengan papa. Denok mengerti. Ia menyarankan agar aku tetap baik pada papaku sambil terus mencari cara agar aku tetap bisa di PAUD.

Sepulang aku dari PAUD, kedua orang tuaku sudah menunngu di ruang tamu.

”Sore Pa, sore Ma!”

Mama menyambutku dengan senyum meski terasa dipaksakan. Papa sama sekali tidak menghiraukan kedatanganku. Beliau tetap asyik dengan koran di tangannya.

”Duduk!” kata papa sambil terus pura-pura membaca. Suasana kaku sekali. Mama terlihat salah tingkah sementara aku hanya bisa duduk di samping mama bagaikan robot. Begitulah kalau papa marah.

”Sudah berapa kali papa mengingatkanmu. Papa tidak suka kamu masih ngurusi anak-anak kampung itu.” Suara papa datar. Masih sambil membaca. Matanya sama sekali tidak tertuju padaku. ”Sari, kamu anak satu-satunya papa. Kamu anak kebanggaan papa. Buatlah papa bangga. Tunjukkan bahwa kamu betul-betul bisa mewujudkan harapan papa.” Kali ini papa memandangku. Aku tersanjung sekaligus gundah. Aku sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan papa. Pasti papa menginginkan agar aku tidak lagi mengajar di PAUD. Sebuah permintaan yang berat dan sulit.

Aku mengiyakan permintaan papa dan mama untuk tidak lagi mengajar di PAUD. Meski jujur kuakui itu hanya lips service saja. Yang penting aku harus pandai-pandai mengatur waktu. Toh selama ini papa dan mama melarangku gara-gara aku sering pulang menjelang magrib. Lagi pula aku jarang kelihatan belajar di rumah.

Yes! Sekolah pulang cepat. Sudah begitu ekskul sore ditiadakan. Padahal papa dan mama tahu kalau hari Senin aku full di sekolah. Langsung saja aku meluncur ke PAUD Kartika.

“Anak-anak, coba semua duduk dulu.” Suara khas Denok kudengar saat aku turun dari becak. Aku langsung masuk. Kulihat Dini duduk di kursi depan. Syukur anak itu sudah sembuh.

“Bu Sari!” Dini langsung menghambur ke arahku. Anak-anak lain memandangku. Mereka kompak menyapaku,“ Selamat siang, Bu Sari!“

„Selamat pagi anak-anak.“ Jawabku sambil menurunkan Dini dari gendonganku.

„Bu, aku punya mainan baru. Dibelikan ayah.“ Kata Ayu sambil mendekatiku. Celoteh anak-anak itu membuatku semakin mantap untuk tetap mengajar di PAUD. Masalah dengan papa? Itu urusan nanti.

Aku lalu mengajar membantu Denok yang sedang mengajak anak-anak itu mempraktikkan cara menggosok gigi yang benar. Denok mengajak anak-anak itu ke luar kelas menuju ke tepat ember-ember yang sudah disiapkan. Aku mengikuti langkahnya. Kuarahkan anak-anak itu berbaris yang rapi. Dini tetap saja ingin dekat denganku. Ia tetap saja manja seperti biasanya.

Aku pulang dengan hati berbunga-bunga. Hari ini aku dapat dekat dengan anak-anak itu sepuas-puasnya.

Sampai di rumah aku mendapati papa mamaku sedang duduk-duduk santai di sofa. Tumben beliau berdua ceria menyambutku. Senyumnya lebar lagi. Ada apa ya?

”Sari, nih!” kata papa sambil menyodorkan sampul surat berwarna coklat. ”Maaf ya, papa sudah baca dulu.”

Aku terima surat itu dengan sejuta kata tanya dalam hatiku. Surat itu lalu kubaca. Hah! Betulkah ini!? Betulkah bahwa aku dan Denok mendapat penghargaaan dari Menteri Pendidikan Nasional sebagai tokoh muda pengabdi pendidikan luar sekolah?  Betulkah bahwa penghargaan ini akan diberikan tanggal 17 Agustus ini? Di Jakarta? Di Istana Negara? Berarti…minggu depan?

”Selamat ya.” Papa mengulurkan tangannya padaku. Kuraih tangan itu dan kuhamburkan tubuhku dalam pelukan papa dan mama. Aku menangis dalam kegembiraan yang teramat sangat. Usahaku selama ini tidak sia-sia meski penghargaan itu bukan tujuanku. Aku tulus ingin membantu anak-anak itu. Tanpa tujuan apa-apa.

”Papa sekarang memberi kebebasan padamu. Tapi ingat! Belajar harus nomor satu.”

”Pasti Pa, Ma. Terima kasih Pa. Terima kasih Ma.” Kembali kupeluk kedua orang tuaku dengan keharuan yang membuncah di dadaku.

Image

Leave a comment »

Menjadi Guru

MANFAAT MENJADI GURU BAGIKU

Menjadi guru bukanlah merupakan impian utama bagiku. Aku lebih mengidolakan bekerja yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Namun karena masuk FKIP merupakan pilihan terakhir yang bisa kudapatkan maka mau tidak mau aku harus menjadi guru.

Setelah menjadi guru, ternyata banyak manfaat yang kudapatkan, yaitu:

1. Kepuasan batin

Hal ini kurasakan jika:

  1. Aku bisa memberikan suatu pengertian yang diterima dengan baik oleh murid-muridku.
  2. Melihat mereka menerimaku dengan tulus.
  3. Melihat mereka bahagia
  4. Mereka menganggap aku sebagai orang tuanya, sehingga mereka menumpahkan perasaannnya padaku.
  5. Aku disapa dengan sopan dan hangat oleh murid-muridku.

2. Penghargaan Masyarakat

Masyarakat masih menganggap bahwa guru adalah sebuah profesi yang mulia sehingga kepada guru mereka masih sangat hormat dan segan. Mereka menyapaku dengan panggilan “Pak Guru.”  Disamping itu, aku sering ditunjuk untuk tampil dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Mewakili untuk memberikan sambutan, dan turut memecahkan masalah-masalah yang ada di kampungku.

Masyarakat yang memperlakukanku seperti ini berpengaruh pada diriku. Aku menjadi lebih berhati-hati dalam bertindak. Jangan sampai aku mencemarkan nama baik diriku dan nama baik masyarakat di tempat tinggalku. Jangan sampai perlakukan masyarakat ini berubah karena ulahku. Masyarakat masih menganggap bahwa guru itu digugu dan ditiru, bukan wagu tur saru.

3. Bagi Keluargaku

  1. Aku bisa menghidupi keluargaku dari profesiku.
  2. Aku bisa menanamkan banyak hal pada anak-anakku.
  3. Aku dituntut banyak membaca karena sering jadi tempat rujukan untuk bertanya,     baik dari anak-anakku maupun keponakanaku. Alangkah malunya kalau sampai pak guru tidak tahu..
  4. Aku harus menjaga kewibawaan dan perilaku untuk dicontoh anak-anakku.

Leave a comment »

Mengajarkan Pantun dengan Teknik Bernyanyi

Pembelajaran Pantun dengan Teknik Bernyanyi
Hakikat Pantun
Pembelajaran pantun merupakan bagian dari pembelajaran bahasa Indonesia. Pembelajaran bahasa Indonesia menekankan pada ketercapaian keterampilan berbahasa.
Pantun merupakan bagian dari materi bahasa Indonesia. Dalam Wikipedia dijelaskan bahwa pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan dan dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan. Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), bersajak akhir dengan pola a-b-a-b (tidak boleh a-a-a-a, a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.
Hakikat Bernyanyi
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa kata bernynayi berasal dari kata dasar nyanyi. Kata bernanyi berarti mengeluarkan suara atau nada. Bernyanyi merupakan upaya untuk menyenangkan hati. Materi pantun yang dibawakan dengan nyanyian akan membuat peserta didik menjadi senang yang akhirnya mereka akan menyenangi materi yanga dibawakan oleh guru. Contoh: Lagu anak ayam turun sepuluh.
Anak-anak diajak menyanyi bersama dengan lagu tersebut. Kegiatan menyanyi bisa dibuat variasi. Misal, dua baris pertama laki-laki, dua baris berikutnya perempuan. Dua baris pertama satu anak, dua baris berikutnya semua anak, dan sebagainya.
Agar lebih menarik, pantun yang dibawakan sambil bernyanyi dapat diiringi dengan musik. Dalam Wikipedia dijelaskan bawa Musik adalah bunyi yang diterima oleh individu dan berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang. Definisi sejati tentang musik juga bermacam-macam:
• Bunyi/kesan terhadap sesuatu yang ditangkap oleh indera pendengar
• Suatu karya seni dengan segenap unsur pokok dan pendukungnya.
• Segala bunyi yang dihasilkan secara sengaja oleh seseorang atau kumpulan dan disajikan sebagai musik
Musik menurut Aristoteles mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme. Iringan musik, meskipun sederhana, dapat membangkitkan semangat siswa.
Membuat pantun memerlukan suatu kondisi yang tenang dan inspiratif. Jika kegiatan itu hanya diakukan dalam suatu ruang dengan pandangan yang terbatas, maka siswa akan merasa kurang nyaman. Kalau keadaan ini berlangsung dalam kurun waktu yang relatif lama atau dalam tingkat keseringan yang tinggi, maka tidak menutup kemungkinan siswa akan merasa jenuh yang berakibat tidak berkembangnya keingingan siswa untuk lebih kreatif membuat puisi.
Dengan melihat berbagai objek, siswa lebih mudah menemukan inspirasi dalam membuat pantun. Hal ini dapat menyebabkan keyakinan siswa yang tiggi bahwa membuat pantun itu tidaklah sulit. Jika kesadaran ii telah tertanam pada sisiwa, maka peran guru tinggal memotivasi kepada siswa ntuk menciptakan pantun dalam berbagai peristiwa.
Hernowo (2004:61) menyatakan bahwa dewasa ini ada kecenderungan untuk kembali ke pemikiran bahwa anak didik akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah.
Motivasi guru begitu penting bagi siswa. Dengan motivasi, kebiasaan positif dapat ditingkatkan. Siswa dan guru lebih bersemangat. Hubungan antara pengajar dan pembelajar pun akan lebih harmonis. Daniel Goleman (1996:164) menyatakan bahwa sinkroni antara guru dan murid-muridnya menunjukkan seberapa jauh hubungan yang mereka rasakan; studi-studi di kelas membuktikan bahwa semakin erat koordinasi gerak antara guru dan murid, semakin besar perasaan bersahabat, bahagia, antusias, minat, dan adanya keterbukaan ketika melakukan interaksi.
Hasil yang Diharapkan
1. Siswa mendapat inspirasi dari lingkungan sekitar untuk membuat pantun
2. Siswa dapat mengembangkan imajinasi
3. Siswa memperoleh kebebasan berkarya
4. Siswa memperoleh banyak pilihan objek yang akan dituangkan ke dalam pantunnya
5. Pembelajaran berlangsung menyenangkan
6. Meningkatkan keterampilan menulis pantun
7. Penulisan pantun menggugah rasa bermain dengan kata-kata dan struktur kalimat. Kegiatan ini membantu mengembangkan kesadaran akan pengibaratan dan metafora, serta irama, sembari memperlihatkan kekuatan dalam menulis singkat dan ringkas (Mary Leonhardt 2001:57).

Leave a comment »